Masa Depan Otomotif Dunia: Mobil Tanpa Pengemudi

Bayangkan skenario dimana anda memanggil online taxi melalui aplikasi yang tertanam di smartphone anda. Lalu setelah menunggu beberapa saat, taksi anda datang. Namun ada yang aneh kali ini. Tidak ada pengemudi di balik setir, alias mobilnya berjalan sendiri! Namun percaya atau tidak, hal yang terdengar aneh ini akan menjadi lumrah mulai tahun 2025 mendatang. Setidaknya itu prediksi para analis industri otomotif global.

Perusahaan penyedia online taxi Uber, menjadi pelopor dalam hal ini. Di kota Pittsburgh, Amerika Serikat, Uber sudah mulai mengaplikasikan Autonomous Vehicles (AVs) untuk beberapa armada online taxi mereka. Uber menggunakan Volvo XC90 untuk armada AVs mereka. Namun untuk tahap awal, AVs yang dioperasikan oleh Uber tetap memiliki pengemudi di balik setir. Hal ini hanya untuk memastikan keamanan dari AVs mereka agar masih berada di bawah pengawasan manusia. Hal ini karena piranti lunak generasi pertama yang tertanam di armada AVs Uber belum mampu mendeteksi jalanan rusak atau perbaikan jalan yang menyebabkan berubahnya marka jalan (piranti lunak generasi pertama AVs saat ini bergantung pada marka jalan).

Analis memperkirakan bahwa kolaborasi antara perusahaan otomotif, perusahaan teknologi, dan perusahaan online taxi akan mendorong akselerasi perkembangan AVs. Para perusahaan otomotif besar dunia mulai berlomba-lomba untuk mengembangkan AVs dan hal ini disambut oleh para perusahaan teknologi untuk mengembangkan teknologi yang mampu mewujudkan hal tersebut. Sedangkan perusahaan online taxi akan menjadi konsumen utama AVs.

Perusahaan-perusahaan otomotif bergerak cepat untuk mengembangkan AVs dengan cara bermitra dengan perusahaan-perusahaan teknologi. General Motors (GM) mengakuisi Cruise, yang merupakan perusahaan start up di bidang piranti lunak autonomous-driving, senilai $ 1 miliar. Sedangkan Toyota, Volkswagen, Tesla, BMW, dan Daimler mengembangkan kontrak kerja sama dengan Nvidia. ementara Renault, Nissan, dan Mitsubishi berkongsi dengan Mobileye yang merupakan anak perusahaan Intel (Intel mengakuisisi Mobileye senilai $ 15.3 miliar pada bulan Maret 2017). Menyadari prospek bisnis pengembangan AVs, perusahaan start-ups di bidang piranti lunak pengembangan autonomous-driving juga bermunculan di Silicon Valley.

Di sisi lain, para pengamat memprediksi bahwa para perusahaan online taxi akan menjadi konsumen terbesar AVs. UBS menawarkan analisa nilai ekonomis dari AVs. Menurut UBS, saat ini 60 persen biaya operasional perjalanan online taxi masih dibebankan pada perusahaan online taxi dan sisanya (40 persen) dibebankan pada konsumen. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab Uber masih merugi hingga saat ini. Namun UBS memprediksi bahwa AVs yang berbahan bakar listrik akan memangkas biaya operasional perjalanan hingga 70 persen. Mungkin hal ini pulalah yang menyebabkan Uber melakukan pembelian 24.000 Volvo XC90 untuk penambahan armada mereka AVs mereka.

Aspek Keamanan Autonomous Vehicles

Tapi pengembangan AVs ini bukanlah tanpa kontroversi. Banyak kecelakaan yang berujung kematian yang diakibatkan oleh AVs. Pada bulan Maret 2018 yang lalu, Elain Herzberg, seorang warga negara Amerika meninggal setelah tertabrak oleh Uber yang sedang dalam mode autonomous di Tempe, Arizona, Amerika Serikat. Bahkan hari ini pun, 5 Mei 2018, AV yang dimiliki oleh Waymo, anak perusahaan Google, terlibat kecelakaan yang juga terjadi di Arizona. Hal ini menyebabkan banyak pihak memiliki pandangan skeptis terhadap AVs. Namun the U.S. National Highway Traffic Safety Administration menyatakan bahwa 94 persen dari penyebab kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh human error atau kesalahan manusia. Oleh karenanya banyak juga yang berpandangan bahwa AVs justru akan meningkatkan keamanan berkendara.

Di lain pihak, banyak pula yang berpandangan bahwa hal tersebut memang suatu proses dari revolusi teknologi. Layaknya pesawat, kapal laut dan kendaraan darat. Pada awal mula pengembangan mereka, angka kecelakaan pun tinggi. Seiring waktu, tingkat keselamatan pun meningkat. Hal yang sama juga berlaku pada AVs, sehingga tampaknya pandangan negatif terhadap AVs tidak akan menyurutkan pengembangan ke depannya. Para pelaku industri bahkan memprediksi bahwa 10 juta kendaraan AVs akan beredar di jalanan mulai tahun 2020; hanya dua tahun dari sekarang. Mungkin hal tersebut memang akan terjadi. Pada bulan Januari tahun ini, General Motors mengumumkan bahwa pada tahun 2019, pihaknya akan mulai memproduksi kendaraan yang tidak akan memiliki fitur-fitur tradisional seperti setir maupun pedal gas dan akan sepenuhnya mampu berjalan sendiri.

Bagaimana dengan Indonesia? Mungkin ada baiknya kita mempersiapkan diri untuk menyambut era AVs. Setidaknya kita bisa mulai dengan memperbaiki marka jalan di Jakarta.

Sumber: Kumparan.com

News Post

Presiden ITS (Intelligent Transport System) lndonesia Noni Purnomo menyatakan, teknologi untuk transportasi saat ini sudah memungkinkan untuk membuat kendaraan lebih cerdas, sehingga dapat mengurangi potensi kecelakaan yang terjadi. Selain itu, masih banyak lagi tren teknologi transportasi yang dapat dimanfaatkan untuk membuat ekosistem transportasi menjadi lebih mudah, nyaman, serta aman bagi pengguna. “Untuk mewujudkan hal itu semua,…

Read More

NERACA Jakarta –Keberadaan transportasi publik di Indonesia masih dimanfaatkan secara optimal, sehingga permasalahan klasik kemacetan sulit dipecahkan. Merespon hal tersebut, Intelligent Transport System (ITS) Indonesia menyatakan, dalam berbagai forum transportasi global disebutkan beberapa solusi untuk permasalahan transportasi perkotaan. Di antaranya, pengembangan transportasi publik terintegrasi yang nyaman dan mudah diakses masyarakat secara lebih luas serta pemanfaatan…

Read More

ITS Japan received the courtesy visit by Dr. Bambang Susantono, the previous president of ITS Indonesia as well as the previous Vice Minister for Transportation of Republic of Indonesia and Ms. Noni S. A. Purnomo, the new President of ITS Indonesia on 14April 2017.The new president, Ms. Noni who is also working as the President…

Read More